My Blog is My Imagination..

welcome to my imagination.. :)

Rabu, 22 Februari 2012

Carved of Love ^^ chapter 2..

Excerpts : Carved of Love 

Chapter : Emaan Fatima 

Setelah hampir lebih dari 3 jam perjalanan, mobil yang dikendarai Rehan berbelok di sebuah jalan yang kiri kanannya ditumbuhi tanaman perdu dan tanaman puring yang tertata rapi, rupanya jalan ini adalah jalan khusus milik keluarga Ahmad Raja Rajpoot, panjangnya sekitar 3 km, ada perasaan tidak enak ketika memasuki Hawali yang super besar milik Ahmad Raja Rajpoot, rumah besar seperti villa di daerah pedesaan ini sangat menonjol, Hawali yang bercat putih berdiri megah seperti istana kecil ditengah luasnya taman yang ditumbuhi berbagai tanaman hias yang selalu ditumbuhi bunga sepanjang tahun.
Hawali ini berlantai 3 sangat kokoh dan berarsitektur klasik yang unik. Seorang pelayan laki-laki keluar menyongsong kedatangan mereka, laki-laki separuh baya itu memakai pakaian Kurta Pyjamas berwarna abu-abu dengan rompi hitam, kulitnya hitam, sorot matanya penuh selidik, tapi wajahnya sangat ramah. Dia tersenyum lebar begitu melihat Saeed Rajpoot dan keluarganya turun dari mobil.
“Salam aleykum ya buzurg... akhirnya sampai juga disini...”
Dia membungkuk menyalami Saeed, Saeed tertawa, “Waalaykum as salam Muddasir.. apa kabar, sehat kah kamu?”
“Alhamdulillah ya buzurg...alhamdulillah...” Setelah membungkuk sambil menangkupkan dua telapak tangan didepan dadanya kepada Malika, dia melihat Rehan yang berdiri memandanginya, “MashaAllah, inikah putramu yang dokter itu?”
Saeed tertawa bangga, “Ya, ini Rehan anakku, dia baru tiba dua hari lalu..”
Rehan tersenyum, dia menyalami Muddasir,
“MashaAllah..MashaAllah, tampan sekali putramu ini...oh, diakah dulu si kembar yang sering buzurg bawa kemari? Aduh, kamu sangat tampan, sangat tampan!”
“Ya, Rehan dan Rayyan... ini Rehan putra pertamaku..”
“Oh, betapa tidak sopan aku, menahan kalian di depan sini, mari, mari masuk, Tuan sudah menunggu...”
Dengan ramah Muddasir mempersilahkan mereka memasuki istana kecil milik Ahmad Raja Rajpoot yang mewah, dengan tergopoh dia berlari mendahului para tetamunya, dia memberi tahu tuannya. Sementara perasaan heran semakin tidak menentu, dia berusaha tenang, tapi pikirannya terus melayang ke Indonesia, hatinya sudah berada di Indonesia, ‘Ainna! Tolong tunggu aku...’ bisiknya berkali-kali.

Sepasang suami istri berpakaian sutra turun dari tangga, yang laki-laki berpakaian Kurta berwana putih, dan yang perempuan memakai Shalwar Kameez berwarna kuning gading, lengkap dengan dhupatta menutupi kepalanya.
Ahmad raja Rajpoot, bertubuh tinggi, tubuhnya tidak gemuk, tampak sehat diusia tuanya. Alisnya tebal, wajahnya keras, sorot matanya tajam. Sementara Sreeparna Rajpoot istrinya bertubuh gemuk, tinggi, besar, berkulit putih bersih, wajahnya bulat, dan senyum lebar menghiasi diwajahnya.
Mereka menyambut kedatangan Saeed dan keluarganya dengan hangat, mengajak mereka duduk di ruang tamu yang luas, ada beberapa set sofa besar yang di tata apik, Ahmad Raja, mengajak mereka duduk di bagian dekat dengan jendela besar yang terbuka, dimana terhampar pemandangan taman yang sangat indah.
Mereka disuguhi makanan ringan seperti biskuit halwa dan samosa isi daging, dan minuman sirup buah murbei yang dingin dan segar, setelah beramah tamah dan menceritakan soal perjalanan mereka dari Lahore, akhirnya Ahmad Raja Rajpoot mulai bertanya pada Saeed Rajpoot kerabatnya yang sebentar lagi akan menjadi besannya ini.
“Saeed sahib, jadi apakah kita akan mulai dengan maksud kita yang sebenarnya?”
Saeed mengangguk, dia melirik Rehan yang tertunduk,
“Ya Sahib, kita akan mulai membicarakan masa depan putra putri kita sekarang...”
Rehan merasa tangan dan kakinya terikat rantai besi sekarang, Ahmad Raja menyuruh istrinya memanggil putri keduanya dari lantai atas. Wanita tinggi besar itu segera beranjak dengan sedikit berlari, dia cepat menaiki tangga dan melesat menuju kamar anaknya yang keduanya yang sudah menunggu dari tadi.
Emaan Fatima yang sedari tadi mengintip di balik pintu kamarnya segera membuka pintu ketika melihat ibunya datang. 
“Emaan sayang, anakku, ayo kita turun... temui calon suamimu...”
Wajah Emaan memerah, ‘Calon suami? Apakah aku bisa menolak? Aku hanya menginginkan Ubaidillah Hashim! Ubaidillah kekasihnya sejak mereka kuliah! 
Emaan tercenung, dia ragu-ragu untuk turun, “Ayo anak ku, aduh kamu sudah sangat cantik sekali..” Bujuk ibunya dengan suara masih tersengal-sengal sehabis berjalan cepat menaiki tangga tadi, semangat wanita itu tiba-tiba mendorongnya untuk berlari menggapai kamar putrinya. Dia sangat bahagia, karena pilihan suaminya sangat tepat, dia sudah memilih putra seorang pemuka agama yang terkenal di Lahore, seorang dokter berwajah tampan pula! Terbayang sudah masa depan putri keduanya ini akan cerah dan bahagia. Suaminya dulu pun berhasil menikahkan putra pertamanya dengan seorang putri dari kerabatnya seorang pengusaha kayu yang sangat kaya, dan mereka hidup sangat sukses dan makmur. Harapannya begitu besar pada Rehan saat ini.
“Ibu...Ibu turunlah dulu... nanti aku akan menyusul...”
Sreeparna membetulkan anak rambut yang jatuh didahi anaknya yang cantik sambil tersenyum,
“Kamu sudah cantik sayang, ayo!”
“Nanti bu...aku, mau berganti pakaian... aku merasa ini tidak pantas...” Emaan beralasan, padahal Shalwar khameez yang dia kenakan sekarang sudah sangat pantas. Sreeparna tidak sabar, “Mereka sudah menunggu sayang, tidak baik membuat mereka menunggu..”
“Biarkan mereka menunggu sebentar ibu... Jika mereka memang menginginkan aku, sepantasnya mereka menungguku.” Jawab Emaan angkuh, Sreeparna terbelalak.
“Emaan... tidak baik bersikap seperti itu, kamu sudah cukup diberi waktu untuk bersolek sedari kemarin! Sekarang ini kamu sudah sangat cantik..ayolah...atau....o hoo...kamu grogi ya?”
Goda Sreeparna melihat anaknya pergi menuju lemari pakaian. Emaan tidak menjawab.
“Baiklah, ibu turun dulu, tapi kamu harus segera turun ya?”
“Iya bu..aku akan segera turun..”
“Sayangku... dia sangat tampan!” Suara Sreeparna begitu riang, Emaan hanya mendengus.
Sreeparna berlalu sambil menutup pintu kamar Emaan. Emaan mengeluh dalam hatinya, ‘Ya Allah, kenapa aku tidak pernah bisa memilih jodohku? Kenapa aku tidak bisa memilih Ubaidillah sebagai suaminya? Kenapa aku harus dijodohkan dengan lelaki yang tidak aku kenal? Bagaimana kalau lelaki ini tidak mencintainya? Dan aku tidak sanggup untuk mencintainya pula? Pernikahan macam apa bila ini terjadi?’
Emaan sangat sedih, ketika pulang dari Islamabad, sebenarnya dia akan mengabarkan pada kedua orangtuanya bahwa dia sudah mempunyai tambatan hati, teman kuliahnya di Allama Iqbal Open University. Seorang pemuda gagah dari caste Jutt. Ubaidillah adalah kakak kelasnya, dia kuliah mengambil jurusan Bussiness Management. Emaan sangat mencintai Ubaidillah, mereka berdua berjanji akan mengikat tali percintaan mereka dalam pernikahan. Tapi sebelum dia sempat menceritakan soal Ubaidillah, orang tuanya sudah memutuskan perjodohan yang sama sekali tidak diharapkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar