My Blog is My Imagination..

welcome to my imagination.. :)

Sabtu, 18 Februari 2012

a little excerpts from my mom's novel w/ tittle : CARVED of LOVE :)

Chapter Sara Raheem.....

Sara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berkali-kali dia membaca semua pesan yang jumlahnya lebih dari puluhan di inboxnya, semuanya dari Rehan. Dia memang membuat akun ini hanya untuk Rehan, dan Rehan tidak tahu kalau dia mempunyai akun facebook yang lain dengan nama yang lain. Rehan begitu sabar dan setia menantinya, dia adalah laki-laki yang sangat ideal untuk menjadi seorang suami. Sara mencintai Rehan, tapi semuanya menjadi tidak mudah sekarang buat Sara. Setelah ayahnya meninggal dunia, otomatis kehidupannya dan keluarganya berubah. Sara tidak dapat menyelesaikan kuliahnya di Australia mengambil jurusan Molecular Biology. Dia pulang ke Lahore, dan keluarganya telah mempersiapkan jodoh untuknya.
Sara benar-benar tidak suka dengan tradisi perjodohan ini, seakan haknya sebagai manusia merdeka tercabut, dia tidak bebas menentukan siapa yang akan jadi suaminya kelak. Yang lebih kejam, ibu dan kedua pamannya tidak pernah memberinya kesempatan untuk tahu siapa calon suaminya, hanya menyebutkan satu nama Shafiqur Rehman Khan, pengusaha textile seperti almarhum ayahnya. Menikahi Shafiq berarti menyelamatkan perusahaan milik keluarga. Ibu dan kedua pamannya mempromosikan Shafiq seolah-olah dia adalah malaikat penyelamat keluarganya, yang mampu mengatasi masalah keuangan keluarganya, bisa menyelamatkan sekolah kelima adik-adiknya, dan itu adalah tanggung jawab Sara sebagai anak pertama.
Tapi mereka lupa Sara adalah gadis modern, gadis yang sangat benci aturan tradisi kuno seperti ini, untuk apa dia menuntut ilmu jauh-jauh ke Australia dengan bidang yang sangat jarang digeluti oleh kaum hawa apalagi di Pakistan, gadis-gadis di sana hanya bisa menuruti aturan keluarga tanpa bisa berbuat apa-apa, masa remajanya hanya dihabiskan untuk berbakti pada keluarga, melayani suami dan membesarkan anak di usia muda…sungguh dia ingin wanita-wanita di Pakistan lebih maju cara berpikirnya, meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai wanita yang mempunyai hak suara, tidak terkekang oleh aturan tradisi yang membodohi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar