Chapter Sara Raheem.....
Sara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berkali-kali dia
membaca semua pesan yang jumlahnya lebih dari puluhan di inboxnya,
semuanya dari Rehan. Dia memang membuat akun ini hanya untuk Rehan, dan
Rehan tidak tahu kalau dia mempunyai akun facebook yang lain dengan nama
yang lain. Rehan begitu sabar dan setia menantinya, dia adalah laki-laki
yang sangat ideal untuk menjadi seorang suami. Sara mencintai Rehan,
tapi semuanya menjadi tidak mudah sekarang buat Sara. Setelah ayahnya
meninggal dunia, otomatis kehidupannya dan keluarganya berubah. Sara
tidak dapat menyelesaikan kuliahnya di Australia mengambil jurusan
Molecular Biology. Dia pulang ke Lahore, dan keluarganya telah
mempersiapkan jodoh untuknya.
Sara benar-benar tidak suka
dengan tradisi perjodohan ini, seakan haknya sebagai manusia merdeka
tercabut, dia tidak bebas menentukan siapa yang akan jadi suaminya
kelak. Yang lebih kejam, ibu dan kedua pamannya tidak pernah memberinya
kesempatan untuk tahu siapa calon suaminya, hanya menyebutkan satu nama
Shafiqur Rehman Khan, pengusaha textile seperti almarhum ayahnya.
Menikahi Shafiq berarti menyelamatkan perusahaan milik keluarga. Ibu dan
kedua pamannya mempromosikan Shafiq seolah-olah dia adalah malaikat
penyelamat keluarganya, yang mampu mengatasi masalah keuangan
keluarganya, bisa menyelamatkan sekolah kelima adik-adiknya, dan itu
adalah tanggung jawab Sara sebagai anak pertama.
Tapi
mereka lupa Sara adalah gadis modern, gadis yang sangat benci aturan
tradisi kuno seperti ini, untuk apa dia menuntut ilmu jauh-jauh ke
Australia dengan bidang yang sangat jarang digeluti oleh kaum hawa
apalagi di Pakistan, gadis-gadis di sana hanya bisa menuruti aturan
keluarga tanpa bisa berbuat apa-apa, masa remajanya hanya dihabiskan
untuk berbakti pada keluarga, melayani suami dan membesarkan anak di
usia muda…sungguh dia ingin wanita-wanita di Pakistan lebih maju cara
berpikirnya, meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai wanita yang
mempunyai hak suara, tidak terkekang oleh aturan tradisi yang membodohi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar